Forevel alone

Menurut pengamataku dua tahun terakhir ini adalah tahun yang berat buat jomblo. Banyak sekali jokes yang menyindir jomblo dan aneh-aneh aja bentuknya. Kemudian karena sering diulang-ulang maka terbentuk opini publik dimana menjadi jomblo itu adalah aib. Menurutku kalau ini berlanjut akan sampai pada titik dimana orang akan mencari pasangan hanya karena kahwatir diejek teman atau orang yang tidak dikenal. Kalau itu terjadi aku yakin akan banyak pernikahan yang berujung pada kekecewaan dan perpisahan. Oleh karena itu pada tulisan ini aku ingin membahas beberapa mitos dan kekeliruan berfikir yang umumnya orang pakai untuk mengejek para jomblo.

Jomblo itu kesepian

Orang selalu mengasosiasikan jomblo dengan orang yang kesepian padahal belum tentu seperti itu. Kemudian orang berfikir setelah memiliki pasangan kesepian itu akan hilang padahal banyak juga kejadian orang yang masih merasa kesepian setelah memiliki pasangan. Kesepian bukanlah suatu kondisi yang bisa dihilangkan dengan memiliki pasangan atau tidak. Kesepian itu muncul biasanya karena adanya kebencian pada diri sendiri yang menyebabkan dirinya tidak layak untuk bahagia. Sehingga kadang walaupun sudah berada di keramaian atau mungkin sudah banyak orang yang sangat memperhatikan tetap merasa kesepian karena merasa orang lain tidak memahaminya. Jadi entah kamu jomblo atau sudah berpasangan kesepian akan tetap menjadi bagian dari dirimu sampai kamu menerima dirimu sendiri apa adanya dan menyayangi dirimu sendiri sebagaimana kamu mengharapkan disayangi orang lain.

Jomblo itu tidak laku

Aku tidak menyukai konsep dimana satu orang “memiliki” orang lain. Hidup berpasangan menurut pandanganku adalah hidup berdampingan antara dua individu yang memiliki visi yang sama tentang kehidupan dan rencana kedepan. Orang selalu berfikir kalau seseorang menjadi jomblo karena dia tidak benilai dan sering ditolak orang lain. Itu adalah hal yang dikatakan oleh orang yang memiliki kebencian pada dirinya sendiri. Padahal bisa jadi seseorang belum memiliki pasangan karena dia, meskipun sudah diberikan pilihan, belum menemukan seseorang yang memiliki visi hidup yang sama. Kalau sekedar memiliki pasangan sebenarnya itu adalah hal yang gampang dan aku yakin setiap orang bisa melakukannya dengan mudah. Memiliki pasangan itu bukan sekedar status tapi merupakan komitmen yang harus kita jalani dengan kesadaran penuh.

Menurutku agar mampu menjadi pasangan seseorang itu harus memiliki nilai yang sama dengan orang yang lain. Dengan memiliki pasangan itu berarti seseorang menemukan orang lain yang setara nilainya. Jadi belum tentu orang yang memiliki pasangan memiliki nilai yang lebih tinggi dari pada yang tidak. Bisa jadi mereka yang jomblo sebenarnya memiliki nilai yang tinggi akan tetapi belum menemukan orang lain yang setara. Kalau dipaksakan pada akhirnya akan berpisah juga dan itu adalah yang selama ini terjadi di masyarakat.

Jomblo itu kekurangan kasih sayang

Kebanyakan orang saat ini berfikir kalau cinta dan kasih sayang akan didapatkan dari pasangan. Jadi ketika mengetahui ada orang yang tidak memiliki pasangan asumsi pertama yang muncul adalah orang tersebut kurang kasih sayang. Tapi itu menurutku hanyalah mitos yang kita buat-buat sendiri. Cinta dan kasih sayang itu bisa kita dapatkan dari siapa saja dan orang pertama yang mencintai kita adalah orang tua. Menurutku cinta yang diberikan oleh orang tua itu adalah cinta sejati yang selama ini banyak orang cari. Cinta sejati = cinta dari orang tua. Bayangkan saja mereka telah berkorban banyak untuk kita dan akhirnya adalah mereka melepaskan kita dan membiarkan kita berbahagia sendiri. Mungkin tidak semua orang merasa seperti itu tapi itu yang aku rasakan selama ini.

Namun bila kita dibesarkan dari keluarga yang tidak sehat hal ini tidak pernah dirasakan sehingga kita mencari dari sumber lain. Mungkin ini adalah awal mula kenapa ada orang yang berfikir bahwa jomblo itu kekurangan kasih sayang karena dia merasa ketika jomblo itu kekurangan kasih sayang. Jadi pemikiran ini berasal dari sudut pandang yang bias dan karena terlalu banyak maka seolah-olah menjadi fakta. Lebih parah lagi jika kita seperti itu pasti nanti ketika memiliki pasangan memiliki kecenderungan untuk minta dicintai. Membuat pasangannya tidak nyaman dan akhirnya ditinggalkan. Bahkan mungkin si pasangan sudah sangat baik tapi kita pada akhirnya tetap melepaskan dengan banyak alasan. Padahal sebenarnya penyebabnya karena kita terlalu membenci diri kita sendiri dan merasa tidak layak dengan orang itu. Bahkan bisa juga kita merasa diri kita paling benar sehingga menyalahkan pasangan ketika terjadi masalah.


Menurutku ada kesalahan pola pikir masyarakat ketika melihat jomblo dan itu akan menimbulkan banyak permasalahan. Jomblo yang terburu-buru mencari pasangan hanya agar tidak dapat penilaian negatif dari masyarakat mengakibatkan banyaknya hubungan yang tidak sehat. Dampaknya nanti kalau sudah menjadi keluarga adalah perpisahan yang akan memberikan luka di psikologis anak. Memang sebaiknya hubungan yang tidak sehat itu harus segera diakhiri. Akan tetapi lebih baik lagi kalau kita bisa menghindari sebuah hubungan yang tidak sehat. Bila kamu jomblo maka manfaatkan waktumu untuk memantaskan diri memiliki pasangan yang kamu harapkan. Kenali diri sendiri lebih baik, stabilkan emosi, belajar banyak hal adalah kegiatan yang perlu dilakukan ketika jomblo sehingga nanti sewaktu memiliki pasangan sudah terbiasa dengan hal itu. Jangan lupa, ketika tercipta sebuah hubungan pasti akan terjadi banyak konflik yang biasanya tidak pernah terjadi ketika sendiri. Memiliki pasangan memang sebuah anugrah tapi jangan lupa bahwa hal tersebut akan diikuti konflik. Sudah mampukah kita menghadapi konflik tersebut dengan baik?