Krafthaus Indonesia's Team

Bulan July kemarin bertepatan dengan 3 tahun aku bergabung dengan PT. Krafthaus Indonesia. Sekilas kalau dilihat itu adalah waktu yang cukup panjang namun bagiku 3 tahun terasa sangat singkat. Banyak cerita namun hanya beberapa yang ingin aku bagikan kepada semua orang. Ini adalah cerita tentang perjalanan hidupku selama berada di PT. Krafthaus Indonesia.

First Year: Struggle

Tahun pertamaku di Krafthaus aku habiskan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Waktu itu aku belum lama lulus kuliah S1 dan pengalaman kerjaku hanya sekedar menjadi trainer di salah satu bimbingan kursus komputer yang lumayan terkenal di Jogja. Belum pernah ada pengalaman kerja kantoran dan apa lagi kerja sebagai programmer dalam sebuah tim. Sebelumnya, selama menjadi trainer aku bekerja sendiri dan hanya part-time saja.

Tidak hanya itu, sebelum melamar pekerjaan di Krafthaus aku juga mendaftar untuk kuliah lagi S2 di UGM karena dulu aku ingin menjadi dosen. Jadi selain aku harus beradaptasi dengan lingkungan kantor aku juga harus menyesuaikan diri dengan jadwal kuliahku. Jadi pada saat itu saat yang lain hanya bekerja hingga jumat aku selalu bekerja hingga sabtu karena jadwal kuliah yang memaksa aku harus ijin. Itu aku lakukan setelah sebelumnya meminta ijin terlebih dahulu ke kantor untuk tetap bisa bekerja sambil kuliah.

To be honest, karena aku nyambi, aku hanya orang biasa-bisa saja di kuliah maupun di kantor. Secara sosial di kampus aku terbilang paling kuper dan kalau soal kerjaan di kantor aku tidak mampu berprestasi. Ketika teman-teman kampus nongkrong bareng aku kerja di kantor. Lalu ketika teman-teman kantor mengadakan acara setelah jam kantor aku ijin untuk mengerjakan tugas. Di tahun pertama inilah aku belajar bahwa tidak benar itu yang namanya multitasking karena yang terjadi sebenarnya adalah aku mengerjakan satu hal cuman berganti-ganti fokus saja. Bila aku teralalu lama menghabiskan waktu di satu tugas aku akan kualahan di tugas yang lain.

Hasilnya aku ketika review di kantor mendapat nilai yang buruk ketika review dan bahkan aku berhasil menggagalkan satu project yang nilainya cukup tinggisaat itu. Aku sedih mengetahui itu dan itu satu-satunya respon masuk akal untuk rangkaian kejadian itu. Ada rasa marah juga melihat komentar tentang kekuranganku dari hasil review. Tapi di suatu malam akhirnya aku menyadari bahwa itu semua memang kesalahanku. Itu memang kekurangan yang ada dalam diriku dan aku harus mengakuainya. Aku juga harus mengakui kegagalanku karena itu hanya itu satu-satunya jalan agar aku mampu berkembang dan menjadi lebih baik.

Second Year: Learning

Meskipun aku melakukan kesalahan namun ternyata usahaku tidak menjadi sia-sia karena di tahun kedua inilah aku diangkat dari Junior Programmer menjadi Senior Programmer. Di tahun kedua ini aku berjanji untuk menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Aku melakukan segala sesuatu yang bisa aku lakukan waktu itu yaitu belajar. Tahun kedua kuliahku sudah semakin berkurang jadi aku memiliki waktu lebih banyak di kantor. Tahun kedua ini sudah mulai normal jadwal kerjaku karena sudah jarang harus bekerja hari sabtu.

Aku sangat bersemangat buat banyak hal yang berkaitan dengan programming dan tidak hanya sekedar masalah teknikal tapi hingga masalah manajemen. Aku mempelajari ulang segala sesuatu yang aku anggap sudah aku kuasai dan ternyata banyak hal baru yang aku pelajari. Aku terkejut dengan begitu sedikitnya hal yang aku ketahui dan aku implementasikan. Setiap penemuan baru yang menarik buatku selalu aku begikan kepada teman-teman yang lain. Mungkin kalau bisa dibaca ulang group chat kantor saat itu akan ada banyak sekali link yang aku share di sana.

Aku belajar cukup banyak sehingga mulai memberikan usulan pada teman-teman yang lain hal baru yang mampu mempermudah pekerjaan. Namun sepertinya tidak semua orang tertarik dengan hal yang sama denganku. Sejenak ketika setelah share tapi tidak ada yang merespon rasanya sedih juga tapi aku selalu ingat bahwa aku share itu bukan untuk mencari perhatian orang lain melainkan untuk membagikan pengetahuan. Jadi meskipun tidak banyak yang merespon aku tetap PD aja melanjutkan berbagi hal baru yang aku pelajari.

Namun karena itu aku kemudian mulai tertarik ingin tahu mengapa teman yang lain tidak tertarik. Aku mulai mencari masalah tersebut di Google dan cukup banyak orang yang membahasnya. Tapi seperti umumnya ketika menjelajaih Internet awalnya mencari satu hal berujung pada hal-hal lain yang saling berkaitan. Ditambah lagi dengan materi kuliah yang kemudian aku search sendiri sehingga banyak sekali informasi yang aku serap waktu itu. Dampaknya makin banyak usulan-usulan yang muncul sampai suatu ketika aku menemukan hal menarik yang sangat penting dan harus aku bicarakan dengan Managing Director.Hal tersebut akhirnya membawa kantor untuk membentu satu divisi baru yaitu RnD yang kemudian aku ditunjuk menjadi salah satu anggotanya.

Third Year: Depression

Tahun ketiga aku masih belum menyelesaikan kuliahku dan itu cukup menyita pikiranku. Disatu sisi aku ingin segera selesai tapi di sisi lain aku ingin berkarya dan menampakkan karyaku di kantor. Aku ingin menunjukkan bahwa tahun ketiga ini adalah kebalikan dari tahun pertamaku. Aku ingin tahun ini menjadi tahun yang hebat dan membuatku bangga. Akhirnya aku beranikan diri untuk meminta satu project untuk aku kerjakan dari awal hingga akhir ke kantor. Aku ingin mengimplementasikan segala sesuatu yang telah aku pelajari sehingga bisa dilihat oleh orang lain. Selain itu ada juga harapan dengan aku terlihat bagus aku dapat lebih persuasif ketika membagikan pengetahuan baru agar dipakai di project masing-masing.

Setelah menanti akhirnya permintaanku terjawab dengan satu project berupa game yang dibuat menggunakan teknologi Web. Aku sangat gembira dan bersemangat untuk mengerjakannya. Sebelumnya semua project yang aku kerjakan lebih banyak berurusan dengan research. Jadi aku lebih sering mengerjakan satu fitur baru yang belum pernah dibuat anggota tim lain. Sehingga mengerjakan satu proyek sendiri dari awal hingga akhir adalah hal yang baru buat aku. Tapi tanpa diduga project berhenti di tengah jalan tanpa sebab yang jelas. Aku harus menghentikan pekerjaanku sementara hingga terdapat kabar lagi. Aku menunggu hingga hampir setahun hingga mendapatkan kabar kalau project cancel. Aku diam.

Saat itu kekecewaanku tidak seperti tahun pertama mungkin istilah jawanya gelo. Selama menanti kejelasan project itu aku sebenarnya sudah diminta bantuan untuk project lain yang berkaitan dengan digital marketing. Saat itu aku belajar banyak hal yang tidak berkaitan dengan teknikal dan itu sangat menarik. Aku mempelajari banyak hal tentang digital marketing dan SEO. Tapi semakin lama pekerjaannya semakin terasa membosankan karena repetitive.

“How do I recover from this situation?” itu adalah yang sering aku tanyakan di tahun ini dan pikiran untuk keluar dari kantor mulai muncul. Berbagai macam kemungkinan aku coba untuk melepaskan diri dari kondisi tersebut. Aku semakin sering memberikan usul-usul baru ke kantor dan dibanding dengan tahun kedua usulku kali ini lebih tegas. Aku mulai terlihat lebih keras dan mulai melihat keburukan teman-teman yang lain mengatakan “Kalau ini aku yang mengerjakan pasti nggak akan terjadi seperti ini”.

Sehingga suati hari seakan ada malaikat yang menjentikkan jarinya di depan wajahku dan menjadikanku tersadar betapa bodohnya aku beberapa bulan ini. Aku mulai berfikir jernih dan aku mulai menyadari kesalahanku. Aku menyalahkan orang lain atas kegagalan yang terjadi padaku. Aku marah dengan keadaanku saat ini. Aku harus berubah. Aku harus pergi untuk memulai bab baru dalam hidupku.

Forth Year: New Beginning

Tiga tahun adalah waktu yang singkat untuk dijalani dan banyak hal yang terjadi dalam hidupku dalam waktu yang singkat itu. Petualanganku di Krafthaus Indonesia harus berakhir dan aku harus meninggalkan banyak kenangan kerenanya. I was foolish all that time. Krafthaus Indonesia telah memberikan banyak kebaikan untukku dan salah satunya adalah sebuah keluarga kecil. Aku hampir saja merusak semuanya itu dan aku menyesal karenanya. Masih ada sedikit retakan-retakan yang tersisa karena kebodohanku itu namun kini aku ingin memperbaikinya. Tahun keempat baru dimulai dan aku ingin tahun ini menjadi satu permulaan untuk masa depan yang cerah. Semangat untuk teman-temanku di PT. Krafthaus Indonesia, aku pamit untuk mengejar mimpiku. Aku doakan kalian sukses selalu dan aku tunggu kalian datang padaku dan kemudian dengan penuh percaya diri berkata “Sukurin! Salah sendiri keluar dari kantor!”.