Believe

Maret kemarin adalah kali kedua aku pergi ke Malang. Pertama kali aku kesana bersama teman-teman merasakan indahnya pemandangan di Bromo. Kemudian untuk yang kali ini aku mengunjungi tempat wisata lain yang ada disana. Ada dua obyek wisata utama yang kita kunjungi yaitu Museum Angkut dan Taman Safari II Prigen. Ada juga hal yang tidak direncanankan namun kita lakukan secara spontan seperti selama perjalanan kemarin aku dan satu temanku bisa merasakan sholat di Masjid Agung Batu, Malang dan Ponorogo secara berturut-turut di hari yang berbeda. Perjalanan kemarin juga sangat berkesan karena aku mampu membuktikan kemampuanku menyetir kendaraan dari Tulungagung (di mobil kita menyebutnya Great Help) sampai Jogja. Diatas semua itu ada satu oleh-oleh yang paling berkesan bagiku karena oleh-oleh ini membantuku melihat kehidupan jadi lebih baik lagi. Oleh-oleh itu berupa frase “Madep Mantep” yang merupakan slogan dari Kabupaten Malang.

Makna “Madep Mantep”

Frase “Madep Mantep” asalnya dari kebudayaan jawa yang secara kasar bisa aku artikan “Menghadapi dengan kemantapan hati”. Lebih jelasnya langsung cari aja di Google karena sudah banyak orang yang sudah dengan baik menjelaskan maknya frase itu. Selama perjalanan di Malang kemarin frase ini menjadi topik utama dengan teman-teman karena ada satu teman yang punya gebetan di Malang dan kita memakai frase ini untuk menggoda supaya dia mantap untuk menjalani LDR sampai menggoda untuk ketemu orang tuanya. Entah karena kita godain atau bukan tapi dia mampu membuktikan pada kita keseriusannya dengan gebetannya ini. Itulah momen saat mataku terbuka tentang makna tersembunyi dibalik frase ini.

Analogi Hujan

Aku akan menggunakan analogi untuk menjelaskan pemahamanku tentang frase “Madep Mantep” saat ini agar mudah dipahami. Jadi sebut saja ada dua orang yang kita panggil si A dan si B. Anggap saja mereka berdua tidak memiliki hubungan satu sama lain alias masih asing satu dengan yang lain. Si A adalah penjual di sebuah online shop dan si B telah membeli sesuatu dan ingin melakukan COD. Mereka berdua berjanji akan bertemu 3 jam dari sekarang di Indomart Point. 10 menit sebelum waktu janjian langit tiba-tiba mendung dan hujan deras.

Bagi orang yang hatinya kurang mantap hatinya bahkan mudah bimbang respon yang pertama kali dia pikirkan saat kejadian ini adalah membatalkan janjinya dan mengganti dihari lain. Orang yang bimbang akan mudah sekali tergoyahkan karena faktor luar yang tidak diperhitungkan. Mentalitas seperti ini sering sekali aku temui disekitarku dan aku lelah dengan orang yang seperti itu. Orang seperti ini tidak dapat diandalkan dan hanya akan merepotkan.

Reaksi kedua yang bisa dilakukan adalah “Madep Mantep” dan tetap pergi walaupun hujan. Orang ini memiliki mentalitas “apapun yang terjadi aku akan tetap berusaha semaksimal mungkin”. Ini adalah mentalitas orang-orang sukses yang sering kita dengar ceritanya. Mereka tidak peduli apapun rintangan yang menghadang didepannya karena saat rintangan itu terlihat dia yakin akan mampu menemukan solusi utnuk melewatinya. Pada konteks ini kalau hujan ya tinggal pakai payung atau jas hujan.

Wis Mending Rasah

Ketidakjelasan, keragu-raguan dan zona abu-abu bukanlah favouritku karena dengan melakukan itu kita bersedia untuk dikecewakan. Oleh karena itu bila aku mengajak seseorang melakukan sesuatu dan responnya “ok, tapi kalau engga …” akan aku jawab “udah, mending nggak usah aja”. Sudah cukup lama aku melakukan hal itu dan setelah dari Malang kemarin aku berfikir kalau ini masih berhubungan dengan “Madep Mantep”. Tapi memang kita tidak bisa sembarangan bilang “mending nggak usah aja” karena ada kalanya memang ada hal yang perlu dijelaskan dengan penggunaan kondisional. Namun itu hanya untuk hal yang kita bisa dengan mantap memenuhi syarat tersebut. Misalnya kalimat “Yuk jalan besok habis gajian”.

Kehidupan Yang Lebih Mudah

Meskipun baru mengenal frase “Madep Mantep” belum lama tapi konsep dan nila-nilai yang dibawa sudah aku jalankan di kehidupanku. Itu adalah hal terbaik yang pernah aku lakukan karena kini aku tidak perlu dipusingkan dengan hal-hal yang tidak jelas. Aku menuliskan hal ini karena pertama belum lama ada kejadian yang berkaitan dengan dengan hal ini. Kedua karena aku ingin mengajak semua orang untuk menjalani hidup dengan “Madep Mantep”. Tertarik?