Chat Button

Chatingan adalah istilah yang sering kita gunakan untuk melakukan obrolan menggunakan tulisan. Semua ini berkat adanya internet dan teknologi ponsel yang memungkinkan chating berkembang pesat saat ini. Banyak sekali aplikasi di luar sana yang cukup populer di luar sana seperti Whatsapp, Line, atau Telegram. Orang jaman dulu untuk dapat berkomunikasi dengan tulisan mereka harus mengirim surat dan harus bersabar karena surat butuh waktu lama untuk dikirim. Setelah adanya chat kita mampu berkirim tulisan dalam hitungan detik dan itu megubah banyak hal termasuk cara sebagian orang, termasuk aku, berkomunikasi. Aku sampai tulisan ini ditulis masih merasa chat adalah alat komunikasi utama. Namun aku ingin setelah ini berhenti menggunakan chat sebagai alat komunikasi utama. Artinya chat hanya jadi alat komunikasi sekunder dan menjadikan tatap muka sebagai media komunikasi utama yang kemudian digantikan dengan telpon kalau tidak memungkinkan untuk tatap muka. Inilah alasan mengapa aku melakukan hal ini.

Chat Mudah Diabaikan

Dicuekin adalah hal yang tidak menyenangkan dan aku sering mendapatkan hal itu kalau berkomunikasi lewat chat. Setiap orang punya alsannya sendiri-sendiri dan akupun kadang melakukan itu jadi aku tidak bisa menyalahkan orang lain karena itu. Tapi menurutku sekarang sudah cukup aku diperlakukan seperti itu dan saatnya untuk berubah. Mungkin ada yang akan berpendapat bahwa mungkin chatku tidak penting atau tidak menarik jadi tidak ada yang menanggapi. Atau mungkin ada yang berkata bahwa aku membosankan jadi orang malas menanggapi. Aku rasa tidak karena dimanapun aku berada aku mampu menciptakan suasana yang menyenangkan dan siapapun yang bersamaku saat itu bisa berkata kalau aku orangnya menyenangkan. Ini adalah poin kedua kenapa aku harus berhenti chattingan.

Kita Tidak Mampu Mengekspresikan Diri

Betul sekali ada emoji untuk menunjukkan emosi kita saat chat namun itu tidak cukup. Bisa saja kamu bersedih tapi mengirim emoji tertawa terbahak-bahak. Atau bisa saja kamu mengirim emoji hati untuk menunjukkan kata “sayang” tapi sambil jalan sama gebetan lain. Chat memudahkan diri kita untuk mengelabui orang lain dan diri kita sendiri. Selain itu manusia punya ekspresi yang lebih kaya dari sekedar emoji itulah kenapa aplikasi chat seperti Line dan Telegram memiliki sticker untuk mengekspresikan emosi kita. Namun itu tetap tidak cukup karena kita tidak menunjukkan diri kita karena kita bersembunyi dibalik topeng berupa emoji atau sticker yang aku yakin sangat berbeda dengan ekspresi asli kita.

Salah Intepretasi

Meskipun sudah pakai emoji atau menggunakan bahasa yang baik dan benar tetap saja orang akan salah memahami hal yang kamu katakan. Ada kok orang yang bercanda tapi kelihatan kaya orang marah, ada juga yang marah tapi kaya orang bercanda. Tapi hal itu tidak akan mungkin kamu temui kalau bertemu langsung atau minimal berbicara lewat telpon dengan orangnya. Coba bayangkan kamu sendang chattingan dengan temanmu kemudian dia hanya menjawab dengan “y”. Apa kira-kira yang kamu pikirkan saat itu? Bisa jadi dia marah. Bisa jadi dia sedang sibuk. Bisa jadi itu tidak bermakna apa-apa tapi kita tetap memaknainya dengan sesuatu yang belum tentu sesuai dengan aslinya.

Saatnya Berubah

Aku kini menyadari mengapa chattingan dengan beberapa orang bisa lebih menyenangkan dibanding dengan yang lain itu karena pada awalnya sudah terbentuk hubungan baik diluar chatting. Itulah sebabnya bila kamu chattingan dengan orang yang belum begitu kamu kenal maka yang terjadi bukan semakin mendekat tetapi malah semakin menjauh. Selain itu, bisa jadi orang yang sedang kamu ajak chatingan itu tidak menunjukkan sifat aslinya alias berpura-pura. Banyak kok aku temui orang yang kalau diajak chatingan rame tapi kalau ketemu ternyata pendiem. Ada juga yang di chat balasnya irit tapi kalau ketemu langsung orangnya seru abis. Aku sudah merasakannya dan aku sudah cukup dengan itu dan kini saatnya mengubah hal tersebut. Aku paham kalau chat hanyalah alat yang kemanfaatannya tergantung pada penggunanya. Tapi aku juga paham kalau tidak ada orang di dunia ini yang mampu menguasai banyak hal dalam kehidupannya dan untuk kasus ini aku harus mengakui kemampuan komunikasiku lewat tulisan tidaklah sebagus ketika tatap muka ataupun lewat telepon.